
Menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Soekarno dan Mohammad Hatta dibawa dan diamankan ke Rengasdengklok oleh Golongan Muda yang terdiri dari Soekarni, Wikana, Yusuf Kunto, Chaerul Saleh, Mawardi, Shodanco Singgih, Sayuti Melik, Soediro, Soebianto, Margono, Adam Malik, dan Armansyah. Sedangkan wakil Golongan Tua ; Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo
Peristiwa Rengasdengklok terjadi pada 16 Agustus 1945. Peristiwa ini berawal dari perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan antara Golongan Tua dan Golongan Muda. Golongan Muda menginginkan agar Proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dianggap sebagai Badan bentukan Jepang
Pada Peristiwa ini, Golongan Muda mengamankan Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok, dini hari pukul 03.00 WIB di kediaman rumah Djiaw Kie Song. Rengasdengklok adalah nama sebuah Kecamatan atau Munisipal yang terletak di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Selama di Rengasdengklok. Soekarno dan Mohammad Hatta terus didesak oleh golongan Muda untuk segera melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan. Rengasdengklok dipilih sebagai tempat mengamankan kedua Proklamator itu, guna menjauhkan Mereka dari pengaruh Jepang
Dalam waktu bersamaan, Wikana dan Darwis mendapat tugas menemui Ahmad Soebardjo. Pada pertemuan tersebut Ahmad Soebardjo menyatakan Proklamasi hanya akan dilaksanakan apabila Soekarno dan Mohammad Hatta kembali ke Jakarta. Ahmad Soebardjo juga menjamin proklamasi Kemerdekaan akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945. Setelah mendengar pernyataan Ahmad Soebardjo tersebut, para Pemuda mengizinkan Soekarno dan Mohammad Hatta kembali ke Jakarta.
Proses perumusan naskah proklamasi dilakukan di kediaman Laksamana Maeda. Naskah proklamasi Kemerdekaan dirancang oleh Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo. Dalam proses perumusan naskah proklamasi tersebut, Soekarno menuliskan konsep naskah proklamasi, Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikiran secara lisan. Tokoh golongan Muda yang hadir, yaitu Soekarni, Soediro, Sayoeti Melik, dan B.M. Diah. Mereka turut memberikan beberapa saran kepada golongan Tua.
Setelah naskah proklamasi disepakati, Soekarno memerintahkan Sayoeti Melik untuk menyalin dan mengetik naskah tersebut. Dalam naskah dan ketikan Sayoeti Melik terdapat beberapa perubahan kata tempoh diubah menjadi tempo, selain itu wakil-wakil bangsa Indonesia diubah menjadi atas nama bangsa Indonesia. Perubahan juga terjadi pada penulisan tanggal, yaitu Djakarta, 17 - 8 - `05 diubah menjadi Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen '05. Pada pukul 05.00 WIB naskah proklamasi selesai disusun. Pembacaan proklamasi direncanakan akan dilaksanakan di lapangan Ikada Jakarta.
Pada pagi hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945 lapangan Ikada telah dipenuhi masa dari berbagai elemen masyarakat yang ingin menyaksikan Pembacaan proklamasi Kemerdekaan Indonesia secara langsung. Lapangan tersebut telah dijaga ketat oleh pasukan Jepang bersenjata lengkap. Keberadaan pasukan Jepang menyebabkan rencana pembacaan proklamasi dilapangan ikada berubah. Demi keamanan, Soekarno memutuskan membacakan naskah proklamasi dikediamannya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta.
Sekitar pukul 10.00 WIB Soekarno didampingi Mohammad Hatta membacakan naskah proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya dilakukan pengibaran bendera Sang Saķa Merah Putih hasil jahitan tangan Ibu Fatmawati oleh Latief Hendraningrat dan Suhud. Lagu Indonesia Raya karya W.R Soepratman dikumandangkan mengiringi pengibaran Bendera Merah Putih.🇲🇨
DIRGAHAYU RI KE 80
#SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA#
Kota Jambi,
17 Agustus 2025
|
525x
Dibaca |
Untuk Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...