
Kota Jambi (MTsN 2) - Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November adalah sebuah momentum untuk mengapresiasi, mengenang, menghargai, dan memaknai kembali jasa para Guru yang tanpa lelah mendidik, mengajar, dan membimbing Kita.
Guru bukan hanya sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan tapi juga menanamkan nilai keteladanan, membentuk karakter dan mencerdaskan anak bangsa sehingga membuka jalan bagi masa depan.
Berbeda dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Kementerian Agama RI yang juga merupakan salah satu pilar institusi pendidikan di Indonesia menghadirkan tema peringatan Hari Guru Nasional 2025 yaitu "Merawat Semesta Dengan Cinta" yang menekankan pada komitmen pentingnya Guru dalam membentuk karakter dan kesadaran ekologi.
Sebuah ungkapan yang mengajak seluruh Tenaga Pendidik/ Guru untuk melihat dan menjaga keseimbangan antara pengetahuan, antara isi pikiran dan kejernihan bathin.

Guru berperan mewariskan nilai, menerangi pikiran, membentuk akhlak, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga semesta.
Hal ini mengingatkan bahwa Guru/ Pendidik memiliki kekuatan besar untuk melahirkan generasi yang beriman, berilmu dan peduli lingkungan.
Kaisar Jepang ke 124, Hirohito, pernah berujar kepada rakyatnya, "berapa jumlah Guru yang tersisa di Jepang?". Kalimat ini terucap sebagai respon pertama yang dikemukakannya setelah mendengar berita luluh lantaknya Hiroshima dan Nagasaki, dua kota utama di Jepang saat itu yang dibombardir oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Hirohito yang juga disebut dengan panggilan Anumerta Kaisar Showa. Terlahir 29 April 1901, yang wafat 7 Januari 1989. Hirohito memimpin Jepang dari tahun 1926 hingga 1989. Kaisar Hirohito mengatakan bahwa Jepang telah jatuh. Kejatuhan itu dikarenakan mereka tidak belajar. Jepang boleh jadi kuat dalam senjata dan strategi perang tapi tidak memiliki pengetahuan mengenai BOM yang telah dijatuhkan Amerika Serikat dan Sekutunya.
Kaisar Hirohito kemudian menambahkan bahwa Jepang tidak akan bisa mengejar Amerika Serikat jika tidak belajar. Karenanya Beliau kemudian mengumpulkan seluruh Guru yang tersisa dipelosok Jepang. Sebab kepada Gurulah Kaisar dan seluruh rakyat Jepang kini harus bertumpu, bukan pada kekuatan pasukan tentara. Kehadiran Guru pada saat itu menjadi krusial bagi seluruh lapisan masyarakat Jepang, karenanya perlahan tapi pasti Jepang dapat kembali bangkit dari keterpurukan.

Kata GURU berasal dari Bahasa Sanskerta dan terdiri dari dua suku kata, yaitu Gu yang berarti bayangan, gelap atau kegelapan, sedangkan Ru bermakna (orang yang membawa) terang.
Secara keseluruhan kata Guru berarti pemusnah kegelapan atau penerang.
Guru merupakan seseorang yang layak dijadikan teladan (Uswatun Hasanah) karena sifat luhur yang dimilikinya, sehingga karena pribadi mulia yang melekat pada dirinya tersebut menjadikan kedudukan seorang Guru adalah kedudukan yang mulia dan dihormati oleh berbagai kalangan.
Ki Hajar Dewantoro, mengemukakan filosofi seorang Guru berlandaskan :
1. Ing Ngarso Sung Tulodo, yang berarti didepan seorang Guru harus memberi teladan
2. Ing Madyo Mangun Karso, yang berarti ditengah atau diantara Siswa Guru harus membangun prakarsa dan ide
3. Tut Wuri Handayani, yang berarti dibelakang Guru harus memberikan dorongan
Filosofi ini mencerminkan Guru yang ideal dimana Guru menjadi teladan, pembimbing dan pendorong bagi kemajuan para Siswanya untuk menciptakan generasi bangsa yang cerdas mandiri dan berkarakter mulia
Keteladanan seorang Guru kepada Siswanya menghasilkan perkembangan signifikan dalam prestasi akademik. Jika Guru ingin mendapatkan respon atau kerjasama dari Siswa, maka Guru perlu membangun persepsi Keteladanan yang positif tentang dirinya.
Proses belajar Siswa sangat dipengaruhi oleh bagaimana Siswa memandang performance keteladanan Guru mereka. Kepribadian Guru seperti memberi perhatian, hangat dan suportif (menyemangati), diyakinkan menimbulkan motivasi dan pada gilirannya meningkatkan prestasi Siswa.
Penetapan Hari Guru Nasional tak lepas dari lahirnya profil organisasi profesi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Tanggal 25 November 1945, hari istimewa ini dipilih karena bertepatan dengan hari lahirnya PGRI yang memiliki akar sejarah perjuangan sebagai organisasi profesi Guru. Hari Guru Nasional resmi ditetapkan pada tanggal 25 November 1994 melalui Keputusan Presiden RI No. 78 Tahun 1994
Pada Hari Guru Nasional tanggal 25 November 2025 ini perlu digulirkan secara massif pentingnya perlindungan terhadap Guru dari ancaman "kriminalisasi" tugas dan fungsinya dari orang tua atau fihak lain seperti yang terjadi akhir akhir ini.
Semoga peringatan Hari Guru Nasional tahun ini menjadi pengingat bagi Kita semua untuk terus belajar menghargai Guru serta mendorong budaya berbagi praktik baik dan inspiratif untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.
Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin.
Penulis: Hendra Adi Sakti
Kunjungi Kami:
Facebook dan YouTube:
MTsNegeri 2 Kota Jambi
Instagram dan Tiktok:
@mtsn2kotajambi
WhatsApp:
+62 895-3910-32379
#mtsn2kotajambi #madrasahmajubermutumendunia
#masandaPINTAR #ZonaIntegritasMASANDA
MTsN 2 Kota Jambi: Peduli lingkungan, Inovatif, Nalar, Teknologi, Amanah, Religius.
|
614x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...